Ternyata Jariku adalah Kepribadianku


Era media sosial adalah era kebebasan yang terkadang menjadi “tanpa batas”. Dahulu kala ketika kita ingin memiliki tulisan yang dimuat di media massa, caranya tidak gampang. Selain tentu saja tulisannya harus berkualitas, kita juga perlu memenuhi beberapa kriteria spesifik dari keinginan media yang bersangkutan. Sudah begitu saingannya pun cukup banyak, maka tidak heran jika seorang redaktur harus bekerja keras memilih satu tulisan terbaik dari puluhan bahkan ratusan tulisan yang dikirimkan ke meja redaksi.

Namun kini, di era media sosial semua orang bebas menulis apa saja dan bebas menerbitkannya kapan saja. Media sosial dimonopoli oleh diri sendiri sehingga tidak ada aturan yang membatasi kecuali “kepribadian” si pemilik akun itu sendiri.

Pada beberapa aplikasi media sosial yang ada, telah menawarkan opsi pengaturan yang sangat detail. Setiap pemilik akun diberi kebebasan untuk mengatur “rumahnya” sesuai keinginannya, dari mulai privasi tulisan, gambar  dan berbagai objek yang diposting dapat diatur siapa pemirsanya, siapa yang dapat mengomentarinya dan siapa saja yang dapat membaginya atau mereproduksi ulang.

Media sosial awalnya muncul sebagai gagasan agar setiap orang bisa go public, menyatakan kediriannya pada orang lain sesama pengguna media sosial juga. Terlebih kini hampir setiap media sosial mempunyai fitur grup. Dimana setiap orang yang mempunyai akun dapat berkumpul berdasarkan ketertarikan akan suatu hal. Misalkan grup kuliner, grup wisata, grup fotografi, grup jual beli, grup belajar dan berbagai macam grup lainnya yang dengan mudah untuk diikuti oleh siapa saja.

ETIKA

Namun sayangnya, fitur grup ini terkadang justru menjadi boomerang bagi para pesertanya, utamanya dalam hal etika bermedia sosial. Kita sering kali mendapati peserta grup yang asal posting atau chat tanpa memperhatikan aturan yang ada di grup tersebut.

Nama grupnya adalah “Belajar Fotografi”, tapi ada saja peserta yang posting jualan gamis. Nama grupnya ”Kuliner Nusantara”, tapi ada saja peserta yang posting resep agar pasangan tahan lama. Lalu apa guna sebuah grup spesifik jika kontennya justru segala hal yang bahkan tidak terkait dengan tujuan grup itu sendiri.

Kecuali jika grup yang Anda ikuti adalah grup universal, yang segala hal diperbolehkan diposting di grup tersebut, tentu saja ini berbeda kasus karena tujuan grup juga berbeda.

Disinilah etika setiap kita dapat dilihat. Apakah kita orang yang taat aturan atau suka mengabaikannya, apakah kita orang yang senang buang “sampah” sembarangan, atau apakah kita adalah pribadi yang teliti dan adil dalam menempatkan sesuatu.

Meskipun suatu hal itu baik, tetapi jika tidak ditempatkan secara adil pada tempatnya maka belum tentu hal itu akan menjadi kebaikan.



BUDAYA PERMISI

Salah satu penyebab utama dari mudahnya “sampah Informasi” bertebaran di media sosial – utamanya di grup – adalah karena minimnya budaya permisi dari anggotanya.
Sebuah grup sudah pasti dibuat oleh seorang atau beberapa orang admin yang mengelola grup tersebut. Dengan kata lain, seorang admin adalah si Tuan rumah, sedangkan anggotanya adalah tamu yang datang ke rumah tersebut.

Nah sebagai tamu yang bermartabat, tentunya jika kita akan meletakkan sesuatu di rumah Tuan Rumah, maka cara yang paling tepat adalah dengan mengajukan ijin terlebih dahulu (permisi) kepada tuan rumah, apakah boleh atau tidak.

Contoh sederhana, Anda mengantar sebuah oleh-oleh ke tetangga terdekat. Oleh-oleh itu telah dibungkus rapi dalam sebuah plastik. Tentu saja oleh-oleh yang dipersiapkan khusus ini enak dan spesial. Tapi Anda tidak permisi kepada tetangga, tiba-tiba saja bungkusan plastik itu ditaruh di depan rumahnya.

Kira-kira apa yang akan dilakukan tetangga Anda?
Ketika mereka mengetahui ada bungkusan plastik di depan rumah yang mencurigakan, bisa jadi dikira bom. Bukannya dinikmati, tetapi tetangga Anda malah akan mengundang tim gegana untuk meledakkannya.

Itulah informasi. Sebaik apapun informasi kalau diletakkan di tempat yang salah apalagi tanpa ijin, bisa jadi hanya akan menjadi “Sampah Informasi”. Oleh karena itu dalam bermedia sosial kita memerlukan kecerdasan dan kebijaksanaan agar tidak asal posting dan asal membagikan informasi.

Jari-jari kita mencerminkan kepribadian kita. Apakah kita pribadi yang patuh aturan, apakah kita pribadi yang punya etika dan sopan santun,  apakah kita pribadi yang bisa berbuat adil, atau apakah kita malah pribadi yang sebaliknya dari itu semua.

Mari jaga jari-jari kita, karena tarian jari-jari kita di atas layar gawai adalah cerminan kepribadian kita sendiri.

by: Sholeh Fasthea

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang EduFast Edutainment

EduFast Edutainment adalah lembaga pelatihan, pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia yang berfokus pada bidang pendidikan.
EduFast Edutainment membuka peluang bagi seluruh instansi pendidikan dan umum untuk bersinergi dalam berbagai macam pelatihan dan workshop.

Informasi Training EduFast:

Hp/Wa: 081802669773

Email: sholehfasthea@gmail.com

Fb: EduFast Edutainment