Tiga Alasan Mengapa Guru "Gaptek" Akan diusir Siswanya dari Kelas

Kalau hari ini anda masih berfikir bahwa teknologi adalah barang baru, maka anda sedang mengasingkan intelektualitas anda dari masa depan. Faktanya adalah bahwa teknologi merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri, bahkan lebih lanjut teknologi adalah kehidupan itu sendiri.

Dalam kontek dunia pendidikan saat ini, teknologi menunjukkan tajinya sebagai alat untuk memudahkan proses belajar mengajar. Guru yang masih menggunakan strategi konvensional seperti mencatat dan mendikte, sudah tidak relevan lagi bagi perkembangan otak siswanya. Setiap detik siswa akan terus bersinggungan dengan desain teknologi yang multi visual. Aspek grafis, audio, warna, bentuk, corak, pola, kontur, struktur dan lain-lain, dapat dengan mudah dijelaskan dengan menggunakan teknologi. Sementara ketika para siswa ini masuk ruang kelas pembelajaran, kebanyakan mereka hanya akan berhadapan dengan teks-teks dan ceramah dari layaknya seorang sipir yang mendikte tahanannya, dalam bentuk kubus penjara yang membosankan.


Maka jangan heran, jika yang terjadi adalah siswa memberontak. Biasanya ditunjukkan dengan cara tidak serius dalam mengikuti pembelajaran, bahkan cenderung mengabaikan gurunya. Jika sudah seperti ini, maka siap-siap saja bagi guru gaptek (Gaptek: gagal peka teknologi) akan segera diusir dari kelas oleh siswa-siswanya sendiri, tentu Anda paham bahwa tidak ada seorang siswa pun yang mau belajar dalam penjara.

Dunia siswa saat ini adalah dunia yang penuh kejelasan dan penjelasan. Hal apa saja yang dahulu kala hanya sebatas mitos - karena tak mampu dijelaskan – kini telah menjadi fakta dan ilmu pengetahuan. Disinilah karya hebat manusia yang disebut “teknologi” mengambil peran utamanya. Jika anda adalah seorang pendidik baik guru maupun dosen, maka sudah menjadi keniscayaan untuk menghadirkan proses pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan dunia siswanya. Metode dan strategi pembelajaran harus diinovasi sedemikian rupa agar mampu memerdekakan peserta didik, dan teknologi adalah sebuah tool yang dapat digunakan untuk menginovasi metode dan strategi pembelajaran tersebut.

Pada umumnya pendidik sudah mengetahui bahwa teknologi dapat membantu mereka untuk lebih mengefektifkan pembelajaran serta dapat mengaktifkan siswanya dalam pembelajaran. Namun jumlah guru yang mau mengubah kebiasaan lamanya menjadi kebiasaan baru yaitu proses pembelajaran berbasis teknologi masih sangat sedikit. Berbagai macam alasan muncul seperti teknologi itu susah, merepotkan, butuh biaya mahal, malas, sudah menguasai materi, sudah hafal, dan lain-lainnya yang sebenarnya hanya menunjukkan ketidakmauan dan ketidaksiapan guru itu sendiri dalam menghadapi kemajuan teknologi dalam dunia pendidikan. Inilah pemahaman mudah tentang "siapa itu pendidik gaptek". Pendidik gaptek adalah mereka yang sadar tentang pentingnya teknologi dalam pembelajaran, akan tetapi mereka tidak berusaha untuk berkarya membuat media pembelajaran handal sebagai fasilitas belajar yang mampu membangkitkan kesuksesan siswa dalam proses pembelajaran.

Guru gaptek dengan pemikiran sebagaimana terdapat pada paragraf di atas, adalah guru-guru yang harus siap jika sewaktu-waktu diusir oleh siswanya dari kelas.
 

Mengapa guru gaptek akan diusir oleh siswa-siswanya sendiri?  Berikut tiga alasan utamanya:


1) Dunia anak adalah dunia yang ceria dan menyenangkan, sedangkan guru gaptek adalah guru yang membosankan dan cenderung menyedihkan

Kasus siswa yang lebih gemar bermain play station atau game online di warnet sepulang dari sekolah, daripada mengerjakan tugas-tugas sekolahnya adalah kasus yang sudah lama terjadi di masyarakat. Namun sepertinya gejala ini tidak begitu ditindaklanjuti khususnya oleh civitas akademika. Penindakan yang salah seperti menyalahkan para pembuka layanan jasa game tersebut adalah cermin kegagalan guru dalam menyediakan fasilitas dan sumber belajar yang mampu mengaktifkan energy belajar siswanya.

Selama guru tidak mampu berinovasi dengan metode dan strategi pembelajaran yang kekinian yaitu menggunakan teknologi sebagai media pembelajarannya, maka perilaku siswa yang lebih menggemari play station atau game online ini juga sulit untuk dihentikan. Sekedar nasihat gurunya saja untuk menghindarinya tidak akan pernah cukup.

Guru yang melek IT seharusnya berfikir tentang bagaimana membuat media pembelajaran berbasis teknologi yang bagus seperti game-game tadi. Guru di jaman era teknologi digital seperti sekarang ini, selayaknya mampu menciptakan media-media pembelajaran handal yang dapat diakses dan digunakan oleh siswanya secara mudah dan meyenangkan. Guru yang mempunyai pola pikir innovator seperti ini akan mampu menghadirkan fasilitas dan sumber belajar yang mumpuni serta disenangi oleh siswa-siswanya. Pembelajaran yang berbasiskan teknologi informasi dan komunikasi mampu menghadirkan sistem pembelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa ceria dalam belajar.

2) Dunia anak saat ini adalah dunia yang penuh kreatifitas, sedangkan guru gaptek selalu monoton dalam mengajar

Setiap anak terlahir dengan potensi yang unik. Potensi ini akan semakin berkembang seiring tumbuh kembangnya para peserta didik. Pada akhirnya potensi setiap individu yang diasah dengan baik akan melahirkan kreatifitas yang lebih baik juga. Oleh karena itu kreatifitas peserta didik harus dikembangkan dengan cara yang benar.

Ada berbagai macam metode dan strategi dalam hal penggunaan teknologi pembelajaran di dalam ruang kelas yang dapat menumbuhkembangkan kreatifitas peserta didik. Game edukatif, aplikasi pembelajaran offline dan online, presentasi interaktif, kumpulan bank soal digital, video interaktif dan lain sebagainya adalah contoh bagaimana memanfaatkan teknologi dalam proses belajar mengajar. Aplikasi atau program yang dibuat dapat menyesuaikan dengan kemauan peserta didik agar mereka bisa belajar dengan nyaman, sekaligus mengasah kreatifitas mereka menggunakan aplikasi atau program yang dibuat oleh guru.

Jadi tidak alasan bagi guru untuk tidak menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran, kecuali ia beranggapan bahwa penjara pembelajaran yang ia buat itu sudah bagus, dan ia juga sudah mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu akan diusir oleh siswanya sendiri dari kelas.

3) Dunia anak saat ini adalah dunia yang imajinatif sekaligus realistis, sedangkan guru gaptek hanya bisa memberikan pelajaran secara absurd

Bagaimana anda menjelaskan struktur lapisan bumi kepada seorang siswa? 
Materi-materi seperti ini hanya akan dijelaskan oleh guru secara kognitif saja, seperti penyebutan nama-namanya. Guru tidak akan bisa menunjukkan wujud lapisan inti bumi (core) seperti apa, bentuknya bagaimana, warnanya seperti apa dan seterusnya. Guru gaptek akan beralasan bahwa untuk materi semacam itu tidak mungkin menghadirkannya secara realistis, karena tidak mungkin juga seorang guru dapat mengajak siswanya untuk mengebor bumi dan masuk ke dalamnya untuk melihat lapisan bumi tersebut.

Tapi tidak begitu dengan guru yang melek teknologi. Guru yang mampu menggunakan teknologi dalam proses pembelajarannya, dapat menghadirkan struktur lapisan bumi secara lebih konkrit dan mendekati realistis. Guru bisa memanfaatkan video baik yang berupa rekaman atau rekaan grafis komputer yang dapat menyerupai bentuk aslinya. Tanpa menggunakan bantuan teknologi audio visual, maka setiap siswa akan mempunyai imajinasi dan persepsi berbeda-beda terhadap materi yang diberikan. Bisa jadi siswa berimajinasi bahwa lapisan bumi itu seperti lapisan kue lapis legit buatan ibunya.

Persoalan utama pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran adalah mindset para pendidik itu sendiri. Pendidik masih berada dalam posisi antipati terhadap teknologi, menempatkan kemajuan teknologi pada level "musuh", bukan justru sebagai senjata yang harus mereka gunakan untuk mensukseskan proses pembelajaran. Hal ini juga yang akhirnya membuat siswa mengakses dan menggunakan teknologi secara tidak tepat. Dalam hal ini bukan salah siswa jika siswa justru mendapat ekses negatif dari teknologi, jelas itu salah para pendidik "gaptek" yangh tidak bisa menggunakan teknologi untuk menciptakan produk pembelajaran yang handal serta dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam belajar. Maka jika anda masih bangga sebagai guru "gaptek" siap-siap saja anda diusir oleh siswa-siswa anda dari kelas.

*Artikel ini juga dimuat di lamperan.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang EduFast Edutainment

EduFast Edutainment adalah lembaga pelatihan, pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia yang berfokus pada bidang pendidikan.
EduFast Edutainment membuka peluang bagi seluruh instansi pendidikan dan umum untuk bersinergi dalam berbagai macam pelatihan dan workshop.

Informasi Training EduFast:

Hp/Wa: 081802669773

Email: sholehfasthea@gmail.com

Fb: EduFast Edutainment