Mistik Jawa dan Perspektif Agama dalam Kepemimpinan Nasional


Rivalitas kekuasan tradisional Jawa berkaitan dengan perkembangan mistik dimulai saat kerajaan Mataram, pada masa lampau banyak diwarnai oleh sengketa diantara para pangeran lebih - lebih jika permasalahannya menyangkut suksesi. Walaupun raja sudah nyiapkan penggantinya tetapi sesudah raja tersebut mangkat, pergantian tahta selalu berlangsung tidak mulus bahkan cenderung bermusuhan.

Tidakkah kita melihat dalam pelantikan presiden Barack Obama seluruh pendahulunya hadir dan dalam pidato pertama alinea pertama dia mengucapkan terima kasih kepada pendahulunya. Banyak faktor yang menyebabkan pergantian raja tersebut berlangsung tidak mulus, tetapi faktor yang menonjol adalah kekuasaan dalam pemikiran area cultural khususnya Jawa yang berdasarkan pada konsep Wahyu Cakraningrat atau Wahyu Kraton masih berakar kuat dalam pemikiran mengenai calon yang dapat mengganti kedudukan raja (Darsiti,2000) pada masyarakat Jawa kekuasaan itu berkaitan erat dengan turunnya wahyu.

Di dalam sistem tata negara kerajaan, rajalah yang berkuasa terhadap seluruh komponen kerajaan, maka akan adanya suatu kelompok yang taat pada pimpinan dengan masing - masing mencari tentang ngelmu Kasempurnan yang termasuk ilmu kebathinan atau dalam filsafat Islam disebut dengan tasawuf atau sufisme. Orang Jawa sendiri menyebutnya Suluk, atau mistik. Kejawen itu sebenarnya bukan suatu aliran agama tetapi adat kepercayaan, karena di sana terdapat ajaran yang berdasarkan kepercayaan terhadap Tuhan yang lebih tepat disebut dengan pandangan hidup atau filsafat hidup Jawa.

Secara historis kondisi masyarakat Jawa terbentuk atas dasar pandangan asli dari Hindu, Islam dan Kristen, perkembangan itu meliputi seluruh segi kehidupan masyarakat, baik politik, sosial, ekonomi, maupun kebudayaan. Sistem Dewa Raja, ketentuan nasib, kultus individu berkembang dengan suburnya di alam feodalistis. Karena itulah, baik Raja atau pemimpin, Abdi dalem maupun staf pemerintahan serta kawulo dalem terkena pengaruh feodalisme.

Pengaruh kepemimpinan Nasional terhadap mistik tersebut adalah: Pada masa tertindas, banyak orang mencari pelarian yang dapat di jadikan penghibur diri. Fenomena semacam ini yang lagi dialami oleh bangsa ini pada masa tertindas oleh penjajah, atau oleh para penguasa. Salah satu pelarian klasik yang populer adalah harapan akan datangnya sang juru selamat, yang sering dikenal dengan Ratu Adil dimana orang Jawa sering mengkaitkan ini dengan ramalan baik Joyoboyo maupun Ronggowarsito.

Anehnya pada saat ini setelah bangsa ini nyaris porak poranda oleh ala penipuan yang mengatasnamakan demokrasi secara terselubung tapi canggih sak teak ala guyonannya, semua itu untuk melanggengkan kekuasaan penjajahan nafsu yang menjelma dalam bentuk anarkisme multidimensi, sementara orang akan bertanya - tanya tentang ratu adil itu. Akhirnya apapun sebuatan bagi negeri ini mulai dari negeri binatang, negeri bencana, lumpur neraka, negeri para bedebah atau apapun sebutannya rakyat lah ujung - ujungnya jadi korbannya.

Permasalahan yang timbul banyak orang yang mulai sadar bahwa sejak jaman kehidupan era rimba raya, kerajaan, penjajahan, kemerdekaan dengan orde lama, baru, dan segala reformasinya, rakyat selalu menjadi obyek orang kuat atau penguasa dan kelompoknya, yang pada saat ini lebih populer disebut dengan Elit Politik. Banyak orang sadar bahwa paradigma politik saat ini masih kental dengan nuansa kekuasaan dan kepentigannya dimana rakyat kecil tetap menjadi bulan - bulanan.

Perspektif Beragama

Menjelang siklus 70 tahunan bumi nusantara entah benar atau tidak. Yaitu periodesasi Sriwijaya Majapahit dan Indonesia, Negeri ini tidak akan pernah damai dan sejahtera dalam pengertian yang hakiki, selama manusia-manusianya mengabaikan Ajaran Agama dan Moralitas. Hal tersebut karena selama manusia tidak berupaya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada penciptanya, Al-Khaliqnya (Pencipta Alam Semesta), pada umumnya manusia tidak akan pernah bahagia secara duniawi dan ukhrowi.

Selama mereka bersikap arogan, haus kekuasaan, jabatan dan harta yang mereka miliki, mereka lupa bahwa semua yang mereka miliki tersebut tidak akan kekal dan apabila Allah swt menghendaki semuanya lenyap, maka lenyaplah seketika tanpa aba-aba. Rasulullah bersabda yang artinya: "Sesungguhnya kalian ditolong dan diberikan rezeki, karena jerih payah dan perjuangan kaum dhu'afa (Orang-orang lemah)". (HR: Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i dan Imam Ahmad). Ajaran dan nasehat Nabi Muhammad ini banyak yang mengingkarinya dan tidak menggubris sama sekali. Mereka lupa dan lalai bahwa apa yang mereka miliki dan apa yang mereka banggakan tidak lain merupakan berkat jerih payah kaum lemah.

Manusia kini tidak dapat lagi melakukan hal-hal yang konstruktif, malah sebaliknya mereka menjadi manusia-manusia yang destruktif akibat ulah mereka sendiri. Mereka terlalu cinta dan memuja materi, pangkat, dan harta. Mereka ingin diidolakan, ingin dikultus-individukan, sehingga tanpa sadar mereka terjerat dengan hal-hal yang berbau syirik. Mereka terperangkap dengan rayuan, godaan dan pengaruh hukum dan pedoman produk manusia, yakni DEMOKRASI dan HAM.

Mereka sangat takut dan loyal terhadap kedua konsep produk manusia ini. Seolah-olah kehidupan mereka akan mulus, terjamin dan aman jika mereka berlindung kepada kedua hal ini. Ini adalah awal kehancuran umat manusia, mereka telah menjadikan Demokrasi dan HAM sebagai pedoman hidupnya, padahal mereka tau dan sadar bahwa hukum produk manusia yang disebut "Undang-undang" sangatlah lemah dan tidak pernah sempurna jika dihadapkan dengan Hukum Allah dan Sunnah Rasulullah nya.

Telah terbukti bahwa hukum buatan manusia yang sifatnya kontroversial dan interpretatif, tidak dapat menyelesaikan berbagai masalah yang ada di belahan dunia manapun, termasuk di Indonesia. Mengapa demikian ? Jawabannya ada pada Firman Allah berikut yang artinya: "Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?". (Al-Maaidah: 50).

Mereka benar-benar telah kehilangan arah, mereka menjadi orang-orang yang selalu mencari pembenaran ketimbang kebenaran, mereka tidak lagi tertarik dan peduli tentang ajaran Agama, mereka sudah terlalu jauh melenceng, bagi mereka dosa sudah tidak lagi menjadi rintangan dan merupakan sesuatu yang sudah lazim dan sering mereka lakukan. Semuanya, menurut mereka bisa diatasi dengan Uang, Pangkat, Harta, Jabatan serta Justifikasi.

Relevansi keberagaman mengenai mistik yang dilakukan orang Jawa khususnya terhadap ketakwaan dan kepemimpinan tersebut bahwa orang beragama yang bertakwa tidak berhasrat meminta kepemimpinan kepada Allah, tetapi mengharap teladan yang baik dari-Nya. Karena dengan keteladanan, kepemimpinan itu akan datang dengan sendirinya. Masih kah kita memperebutkan kekuasan dengan menghalalkan segala cara diluar kaidah yang ada?

Mari mengingat pidato Pidato Bung Karno pada saat Konperensi Kolombo Plan di Yogyakarta tahun.1953

"Rakyat padang pasir bisa hidup-masa kita tidak bisa hidup! Rakyat Mongolia (padang pasir juga) bisa hidup masa kita tidak bisa membangun satu masyarakat adil-makmur gemah ripah loh jinawi, tata tentram kertaraharja, di mana si Dullah cukup sandang, cukup pangan, si Sarinem cukup sandang, cukup pangan? Kalau kita tidak bisa menyelenggarakan sandang-pangan di tanah air kita yang kaya ini, maka sebenarnya kita Beograd yang tolol, kita Beograd yang maha tolol."

Sumber (http://rajasamudera.com/2010/06/mistik-jawa-dan-perspektif-agama-dalam-kepemimpinan-nasional/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang EduFast Edutainment

EduFast Edutainment adalah lembaga pelatihan, pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia yang berfokus pada bidang pendidikan.
EduFast Edutainment membuka peluang bagi seluruh instansi pendidikan dan umum untuk bersinergi dalam berbagai macam pelatihan dan workshop.

Informasi Training EduFast:

Hp/Wa: 081802669773

Email: sholehfasthea@gmail.com

Fb: EduFast Edutainment