Menyoal Kekerasan Dalam Pendidikan

Kekerasan dalam Pendidikan

Sering kali tindak kekerasan dalam pendidikan menjadi perbincangan di berbagai kalangan. Bagaimana tidak, sekolah sebagai lembaga pendidikan yang dipercaya untuk memajukan generasi bangsa justru menjadi ajang pembantaian manusia. Entah itu dilakukan oleh oknum guru ataupun sesama siswa. Sangat akrab di telinga kita nama STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) ataupun yang lebih baru yaitu STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) yang telah menewaskan beberapa dari siswanya. Tidak hanya di level perguruan tinggi, di sekolah-sekolah dasar pun sering terjadi tindak kekerasan seperti pemukulan seorang guru kepada siswanya, tawuran antar pelajar dan sebagainya.

Kalau dirunut sejarahnya, perilaku kekerasan hampir terjadi di seluruh aspek kehidupan di negeri ini, sebuah negeri yang konon berbudaya dan beradab. Perilaku masyarakat primitif yang lebih mengedepankan emosi daripada rasio ternyata masih melekat di hati sanubari sebagian masyarakat. Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Namun kiranya persoalan kekerasan pendidikan ini perlu dikaji sebenarnya latar belakang apakah yang menyebabkannya, terutama kaitannya dengan masyarakat, karena bagaimanapun manusia sebagai subjek utama pendidikan tidak bisa melepaskan diri dari unsur kemasyarakatan.

Dalam pola komunikasi dan interaksi masyarakat muncul kebiasaan dan kegiatan yang dilakukan secara rutin, di mana di dalamnya terdapat nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi tolak ukur tentang benar tidaknya sebuah pola perilaku. Norma-norma itu terhimpun menjadi aturan yang harus dipatuhi, karena setiap penyimpangan atau pelanggaran akan menimbulkan keresahan, keburukan dan kehidupan berlangsung tidak kondusif. Anak-anak sejak dini telah dikenalkan dengan nilai-nilai yang mengatur kehidupan manusia. Norma-norma itu sebagai ketentuan tata tertib yang harus dipatuhi atau ditaatinya. Pelanggaran atau penyimpangan dari tata tertib akan merugikan dirinya dan bahkan dapat ditindak dengan mendapat sangsi atau hukuman. Dengan kata lain setiap anak harus dibantu hidup secara berdisiplin, mematuhi atau menaati ketentuan-ketentuan yang berlaku di lingkungan keluarga, masyarakat dan bangsa.

Tindakan penyelewengan atau penyimpangan dari norma yang berlaku akan mendapat hukuman. Hukuman sebagai sebuah usaha timbal balik dari kegiatan penyimpangan memunculkan kontroversi karena sering justru hukuman yang dilaksanakan (baik secara individu maupun institusional) menyebabkan dehumanisasi terhadap pelakunya. Menurut Ahmad Tafsir hukuman memiliki pengertian yang luas mulai dari hukuman ringan sampai pada hukuman berat, sejak kerlingan yang menyengat sampai pukulan yang agak menyakitkan. Sekalipun hukuman banyak macamnya, pengertian pokok dalam setiap hukuman tetap satu yaitu adanya unsur yang menyakitkan baik jiwa atau pun badan.

Persoalan yang kemudian muncul dalam proses pendidikan adalah praktek hukuman tersebut sering berlebihan, mengungkung kebebasan, tidak memandirikan apalagi untuk menumbuhkan kesadaran anak. Dan disadari atau tidak disinilah kekerasan dalam pendidikan berasal. Contohnya adalah hukuman seperti membersihkan kamar mandi, menyapu halaman, lari memutar lapangan dan bahkan kekerasan fisik seperti memukul. Hukuman seperti ini perlu dikaji ulang dan dipertimbangkan karena tujuan menjatuhkan hukuman atau sangsi adalah untuk menimbulkan kesadaran pada anak didik bahwa perbuatan melanggar adalah salah bukan untuk membebani ataupun membuatnya menderita dan kesakitan.

Kekerasan yang dilakukan di sekolah ataupun di rumah (karena rumah merupakan laboratorium pendidikan utama dan pertama), hanya akan membentuk pribadi yang penakut, menjauhkan anak-anak dari kegairahan bekerja, keberanian bertindak dan menyebabkan ia senantiasa merasa sengsara. Ataupun jika ia melakukan suatu perbuatan hanya karena ia takut apabila ia tidak melakukannya akan mendapat sangsi. Dan yang lebih parah lagi adalah bahwa penderitaan jiwa yang ia pendam tersebut bisa-bisa saja pada titik kulminasi tertentu akan meledak dan tak jarang anak akan melakukan tindakan kekerasan yang sama atau lebih sebagaimana ia telah mendapat kekerasan pada dirinya.

Menurut beberapa ahli tindakan hukuman atau sangsi dilaksanakan atas berbagi teori sebagai berikut:

1. Teori Pembalasan
Teori ini merupakan teori yang tertua dan tidak boleh dipakai dalam dunia pendidikan, di mana dalam hukuman itu sebagai pembalaan atau dendam atas kelalaian dan pelanggaran yang telah dilakukannya.

2. Teori Perlindungan
Teori ini mengatakan bahwa hukuman diadakan untuk melindungi masyarakat banyak agar terhindar dari kejahatan yang dilakukan oleh si pelanggar.

3. Teori Perbaikan
Berdasarkan teori ini, maka hukuman yang diberikan bertujuan agar tidak mengulangi lagi berbuat kesalahan/ untuk memperbaiki pelanggaran yang telah diperbuat. Teori inilah yang sangat diperlukan untuk dunia pendidikan.

4. Teori Ganti Kerugian
Menurut teori ini, hukuman diadakan untuk mengganti kerugian yang telah diderita akibat dari kesalahan atau pelanggaran itu. Hukuman itu banyak dilakukan dalam masyarakat atau pemerintah.

5. Teori Menakut-nakuti
Teori ini mengatakan bahwa hukuman itu dilakukan untuk menakut-nakuti di pelanggar agar tidak berbuat kejahatan atau pelanggaran sehingga ia akan selalu takut melakukan perbuatan itu dan mau meninggalkannya.

Kalau melihat beberapa teori di atas tidaklah semua dapat dibenarkan dalam praktek pendidikan. Meskipun pendidikan menghendaki adanya sangsi atau hukuman, haruslah sangsi atau hukuman terebut dilaksanakan secara manusiawi dan didasarkan atas dasar nilai kemanusiaan pula. Sangsi atau hukuman diberikan dalam upaya untuk menyadarkan dan memperbaiki perilaku siswa bukan untuk menyiksa apalagi membuatnya menderita. Dengan demikian siswa akan terjauhkan dari pengalaman-pengalaman tindak kekerasan di sekelilingnya. Pada akhirnya dunia pendidikan benar-benar akan menjadi lembaga yang mendidik, mengembangkan dan memajukan generasi bangsa bukan sebagai tempat ataupun sumber kekerasan dan perilaku primitif berasal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang EduFast Edutainment

EduFast Edutainment adalah lembaga pelatihan, pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia yang berfokus pada bidang pendidikan.
EduFast Edutainment membuka peluang bagi seluruh instansi pendidikan dan umum untuk bersinergi dalam berbagai macam pelatihan dan workshop.

Informasi Training EduFast:

Hp/Wa: 081802669773

Email: sholehfasthea@gmail.com

Fb: EduFast Edutainment