Tujuan Pendidikan Yang Tergeser

Pendidikan Islam

Pernahkah kita memikirkan bahwa tidak semua rakyat di belahan nusantara ini bisa mengenyam bangku sekolah. Sampai saat ini sekolah masih diyakini sebagai institusi yang dijadikan tumpuan bagi seseorang untuk mendapat pengetahuan. Dari pengetahuan tersebut diharapkan mampu mendapatkan pengakuan publik atau lebih spesifik dimanifestasikan dalam bentuk lembaran ijazah atau sertifikat. Dengan lembaran tersebut seseorang dengan tingkat kepercayaan yang tinggi akan mencari pekerjaan. Dan tentu dari pekerjaan tersebut seseorang berharap besar untuk mendapatkan status sosial, minimal status ekonomi yang mapan. 

Benarkah sesimpel itu tujuan bangku sekolah diadakan?. Alur pemikiran yang seperti ini masih melekat sekali pada proses pendidikan (baca:persekolahan) di negara yang kita agung-agungkan ini. Banyak sekolah yang mempromosikan diri baik melalui media elektronik maupun tulisan dengan mengiming-imingi bahwa pasca studi seseorang akan mendapatkan pekerjaan. Disini jelas sekali bahwa entri poinnya adalah mendapat pekerjaan. Bukan mendapat pengetahuan. Benarkah tujuan pendidikan seperti ini.

Tujuan utama pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka seharusnya pendidikan sebagai sebuah upaya dan proses harus mampu mengantarkan ke arah tujuan yang mulia ini. Oleh karena itu pendidikan harus memfokuskan dalam upaya pencerdasan dan pencerahan manusia.

Manusia yang cerdas adalah manusia yang sadar akan diri dan lingkungannya. Sadar sepenuhnya atas dasar pengetahuan yang ia miliki dan ia kembangkan. Manusia yang cerdas bukanlah manusia yang mudah didikte dan diatur kesana-kemari, tapi ia mempunyai inisiatif dan kreativitas untuk mengembangkan dirinya. Untuk memilih dan membuat keputusan atas pilihan tersebut dan ia pertanggungjawabkan dalam kehidupannya. 


Hal inilah yang semakin jauh dari model pendidikan kita saat ini. Pendidikan saat ini lebih ditekankan pada aspek-aspek materiil yang mendorong manusia untuk menumpuk hal-hal yang sifatnya material pula tanpa mengerti aspek-aspek sosial. Padahal kalau kita teliti lebih lanjut masih banyak pengangguran yang berpendidikan yang bingung untuk mencari pekerjaan. Seharusnya kalau pendidikan memang sebagai proses pencerdasan dan pendewasaan tentu hal ini tidak akan terjadi. Karena manusia yang cerdas tentu dapat mengatasi segala permasalahan hidupnya.

Melihat kondisi tersebut patutlah kalau kita kemudian berfikir bahwa proses pendidikan selama ini belum mampu melahirkan pribadi-pribadi yang tercerahkan. Tapi sebaliknya, yaitu manusia yang bingung dan tidak mempunyai tujuan. Maka tidak heran jika jurang pemisah antara kaya-miskis makin curam. Karena memang tidak terjadi keseimbangan ekosistem kehidupan antara pelaku-pelaku sosianya.


Sudah saatnya pendidikan kembali ke tujuan semula, yaitu sebagai proses pencerdasan, bukan proses pembingungan yang hanya akan semakin menambah permasalahan sosial yang telah multi kompleks ini. Maka paradigma pendidikan yang sempit dan menyesakkan ini harus segera diluluhlantakkan dari bangku sekolah Indonesia. Pendidikan hendaknya dimaknai sebagai proses pencerahan atas kreativitas dan tujuan hidup manusia seutuhnya. Proses-proses pendidikan harus merupakan pengembangan potensi dan kemauan peserta didik agar ia dapat dan mampu mengelola segala sesuatu yang ada dalam diri dan lingkungannya agar menjadi sebuah kebermanfaatan bagi sesama bukan untuk menjadikan kemudlorotan bagi lingkungannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang EduFast Edutainment

EduFast Edutainment adalah lembaga pelatihan, pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia yang berfokus pada bidang pendidikan.
EduFast Edutainment membuka peluang bagi seluruh instansi pendidikan dan umum untuk bersinergi dalam berbagai macam pelatihan dan workshop.

Informasi Training EduFast:

Hp/Wa: 081802669773

Email: sholehfasthea@gmail.com

Fb: EduFast Edutainment