Polemik Media Informasi Bagi Pendidikan Islam


Globalisasi ditandai oleh kemajuan teknologi yang sangat pesat di segala aspek kehidupan. Terutama di bidang teknologi informasi. Teknologi informasi telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas negara, bahkan telah memungkinkan sebuah desa ataupun perkampungan yang berada di pegunungan pun dapat menikmati teknologi tersebut. Teknologi informasi ini antara lain berupa media audio (radio) dan audio visual (televisi dan internet). Sebagai sebuah hasil penciptaan, sudah tentu media-media tersebut mempunyai dampak bagi penggunanya. Semula masyarakat yang jauh dari perkotaan akan sangat sulit untuk mengakses media oleh karena itu jangan disalahkan kalau daerah-daerah pinggiran (baca; perkampungan) terlalu lamban untuk maju. Tapi sekarang kenyataan sudah berbeda. Media informasi seperti radio dan televisi telah menembus belahan dunia manapun dan dalam kondisi masyarakat apapun. Kalau kita cermati, seharusnya perkembangan dan penyebaran teknologi ini mampu mendorong kemajuan daerah pinggiran. Tapi kenyataannya sebaliknya. Media informasi tersebut belum mampu sepenuhnya mendorong kemajuan masyarakat. Bahkan bisa sebaliknya, media informasi justru menjadi pemacu kemunduran.

Mungkin belum lekang di ingatan kita tentang kasus goyang ngebornya Idul yang sempat mendapat kontroversi, selain karena terkesan erotis juga telah terjadi perkosaan yang menurut alasan si pelaku ia melakukan hal itu setelah menonton VCD goyang Idul sehingga ia tidak dapat mengendalikan dirinya. Saya disisni tidak menempatkan sebagai orang yang pro maupun kontra terhadap Goyang Idul tersebut, tapi lebih menempatkan diri pada peran media informasi yang belum mampu memberikan suguhan yang menarik dan mendidik bagi masyarakat. Masih banyak lagi kasus-kasus lain yang serupa, seperti perampokan yang dilakukan seseorang justru karena beberapa tayangan televisi menampilkan profil perampokan berikut modus-modusnya sehingga si pelaku berinspirasi dari tayangan itu.

Hal inilah yang terjadi di dunia teknologi. Karena ternyata teknologi tidak bisa lepas dari unsur-unsur kapitalisme global yang merupakan salah satu benang kusust globalisasi. Media informasi seperti televisi dapat dijadikan alat yang sangat ampuh bagi sekelompok orang atau golongan untuk menanamkan atau, sebaliknya, merusak nilai-nilai moral, untuk mempengaruhi atau mengontrol pola pikir seseorang oleh mereka yang mempunyai kekuasaan terhadap media tersebut. Disinilah hal yang perlu diantisipasi atau lebih tepatnya segera diatasi dan dicarikan solusi oleh pendidikan, terutama pendidikan Islam. Karena mereka yang menguasai komunikasi global tersebut memiliki perbedaan perspektif yang ekstrim dengan Islam dalam memberikan kriteria nilai-nilai moral; antara nilai baik dan buruk, antara kebenaran sejati dan yang artifisial.

Televisi sebagai satu-satunya teknologi yang mempunyai jangkauan yang sangat luas dapat menimbulkan dampak sosio-psikologis sangat kuat pada pemirsanya. Beberapa studi mengemukakan adanya hubungan antara menonton televisi dengan sikap agresif (Huismon & Eron, 1986; Wiegman, Kuttschreuter & Baarda, 1992), dengan sikap anti social (Hagell & Newburn, 1996), dengan sikap aktifitas santai (Selnon & Reynolds, 1984), dengan kecenderungan gaya hidup (Henry & Patrick, 1977), dengan sikap rasial (Zeckerman, Singer &Singer, 1980), kecenderungan atas preferensi seksual (Silverman – Watkins & Sprafkin, 1983), kesadaran akan daya tarik seksual (Tan, 1979), stereotype peran seksual (Durkin, 1985), dengan bunuh diri (Gould & Shaffer, 1986), identifikasi diri dengan karakter-karakter di televisi (Shaheen, 1983).

Studi lain tentang dampak-dampak televisi menunjukkan indikasi yang berbeda. Seperti adanya kesadaran akan segala peristiwa yang terjadi di seluruh dunia (Cairn, 1990), kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara (Conway, Steven & Smith, 1975), bertambahnya pengetahuan akan geografi (Earl & Pasternack, 1991), meningkatnya pengetahuan tentang masalah politik (Furnham & Gunter, 1983), bersikap pro social (Gunter, 1984).

Dengan demikian pendidikan Islam mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka mencarikan solusi atas problematika tersebut. Selama ini umat Islam lebih berada pada tingkat yang paling dirugikan, yaitu konsumen (baca; korban). Karena Televisi dan teknologi lainnya lebih banyak dikuasai oleh kaum-kaum sekuler, ataupun dia orang islam tetapi belum sepenuhnya memahami ajaran Islam itu sendiri. Sehingga televisi hanya dijadikan media hiburan tanpa ada muatan pendidikannya. Lebih parah lagi akhir-akhir ini banyak muncul sinetron ataupun perfilman yang membawa nama agama, tetapi tidak lain isinya lebih membawa penontonnya ke arah kemusyrikan karena justru tayangan tersebut memunculkan unsur-unsur mistis yang jauh dari ajaran agama Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang EduFast Edutainment

EduFast Edutainment adalah lembaga pelatihan, pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia yang berfokus pada bidang pendidikan.
EduFast Edutainment membuka peluang bagi seluruh instansi pendidikan dan umum untuk bersinergi dalam berbagai macam pelatihan dan workshop.

Informasi Training EduFast:

Hp/Wa: 081802669773

Email: sholehfasthea@gmail.com

Fb: EduFast Edutainment